Jumat, 18 Desember 2020

Pengelolaan Kesehatan Tanaman

 SISTEM PENGELOLAAN KESEHATAN TANAMAN PADA BUDIDAYA TANAMAN KUBIS PUTIH (Brassica oleracea L.)


                                                 Salsalia Corry N.S ( 18025010152 )

PHPT Kelas D



Kubis (Brassica oleracea L.) merupakan sayuran yang mempunyai peran penting untuk kesehatan manusia. Kubis banyak mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Sebagai sayuran kubis dapat membantu pencernaan, menetralkan zat-zat asam. Kubis mengandung banyak vitamin seperti vitamin A, beberapa vitamin B, vitamin C, dan vitamin E). Kandungan Vitamin C cukup tinggi pada kol dapat bermanfaat untuk mencegah skorbut atau sariawan akut. Kubis juga banyak mengandung banyak mineral seperti kalium, kalsium, fosfor, natrium, dan besi. Kubis segar juga mengandung sejumlah senyawa yang dapat merangsang pembentukan glutation, zat yang diperlukan untuk menonaktifkan zat beracun dalam tubuh manusia. Permintaan produk hortikultura terutama sayuran seperti kubis cukup tinggi. Budidaya tanaman kubis dengan konsep PKT diharapkan dapat mencapai potensi genetik sepenuhnya yang dimiliki oleh tanaman kubis, serta membantu meningkatkan hasil panen sayur kubis di Indonesia.

 

A.    PERSIAPAN

Tahap persiapan meliputi pengumpulan berbagai macam informasi mengenai komoditas yang akan dibudidayakan, yakni komoditas kubis.

 

1.      Pengambilan Keputusan Dan Analisis Usaha Tani

Pengambilan keputusan usaha tani dan analisis usaha tani dalam budidaya tanaman kubis perlu dilakukan sebelum dilakukan kegiatan penanaman. Tahap ini dilakukan untuk mengetahui biaya - biaya serta kemungkinan pendapatan yang akan diperoleh.

Analisis Usaha Tani :

Biaya pembukaan kebun 500 m², peralatan, bahan tanam     : 4.200.000

Pendapatan per panen                                                                 : 7.800.000

Keuntungan                                                                                  : 3.600.000

2.      Pengumpulan Informasi

a.      Potensi Genetik Tanaman

 Potensi hasil pada tanaman kubis varietas grand 11 dapat mencapai 40 ton / ha dengan pupulasi 20.000 tanaman. Kubis tumbuh baik di dataran tinggi 1.000 – 2.000 m diatas permukaan laut. Keadaan iklim yang cocok untuk tanaman kubis adalah daerah yang relatif lembab dan dingin. Kelembaban yang diperlukan tanaman kubis adalah 80% –   90%, dengan suhu berkisar antara 15 ºC – 20 ºC, serta cukup mendapatkan sinar matahari. Apabila kondisi tersebut terpenuhi, diharapkan hasil produksi tanaman kubis akan mencapai potensi genetiknya.

 

b.      Faktor Pembatas Tanaman

-          Gangguan hama yang biasa menyerang tanaman kubis adalah  ulat daun kubis, ulat grayak, ulat krop kubis, dan ulat jengkal kubis. Sedangkan gangguan penyakit yang biasa menyerang tanaman kubis adalah busuk lunak, busuk hitam dan akar bengkak

-          Kekurangan air dan nutrisi hara dapat menyebabkan pertumbuhan kubis lambat karena nutrisi kurang tercukupi dan mengalami cekaman kekeringan.

-          Kondisi tanah, kelembaban dan cuaca yang tidak cocok untuk tanaman kubis dapat menyebabkan hasil produksi kubis kurang maksimal.

 

c.       Metode Untuk Mengatasi Faktor Pembatas

-          Gangguan OPT dapat diatasi dengan pengendalian secara terpadu yaitu dengan menggunakan varietas yang tahan, penggunaan musuh alami, pengendalian fisik, mekanik, kultur teknik , penggunaan pestisida nabati.

-          Kekurangan air dapat diatasi dengan perbaikan pola penyiraman pada lahan agar kebutuhan air tanaman terpenuhi dengan baik. Kekurangan air ini erat kaitannya dengan musim tanam yang dipilih.

-          Pemenuhan kebutuhan nutrisi perlu diberikan secara rutin dan berkala. Pemberian pupuk dilakukan pada waktu yang tepat dan juga sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

-          Kondisi tanah, kelembaban dan cuaca harus sesuai dengan persyaratan tumbuh kubis.

 

d.      Kondisi Lahan Yang dibutuhkan Tanaman

Kubis tumbuh baik di dataran tinggi 1.000 – 2.000 m diatas permukaan laut. Kubis memerlukan persentase kandungan air dari kapasitas lapangan 60 – 100 % atau rata-rata lebih kurang 80%. Tanah lempung berpasir baik untuk dijadikan media tanam kubis. Keasaman tanah yang dibutuhkan berkisar antara 6 - 7 dengan irigasi dan drainase yang memadai. Tanah harus subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik.

 

3.      Pemilihan Lahan

Kubis tumbuh baik di dataran tinggi 1.000 – 2.000 m diatas permukaan laut pada semua jenis tanah. Tetapi yang paling baik untuk tanaman kubis adalah tanah yang gembur, banyak mengandung humus dengan pH berkisar antara 6 – 7. Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman kubis adalah lempung berpasir. Keadaan iklim yang cocok untuk tanaman kubis adalah daerah yang relatif lembab dan dingin. Kelembaban yang diperlukan tanaman kubis adalah 80% – 90%, dengan suhu berkisar antara 15ºC – 20ºC, serta cukup mendapatkan sinar matahari.

 

4.      Pemilihan Kultivar Tanaman

Varietas kubis yang dipilih untuk budidaya dengan sistem PKT ini adalah kubis hibrida seperti Grand 11, new summit, dan summer autumn 633. Varietas ini tidak perlu mengikat daun dan muda agar membentuk krop, krop lebih padat daripada kubis non hibrida sehingga bobot per krop kubis hibrida lebih berat daripada kubis non hibrida, dan daya tahan crop lebih baik atau lebih lama dalam penyimpanan maupun pengangkutan daripada kubis non hibrida.

 

5.      Pemilihan Metode Produksi

Metode produksi yang dilaksanakan pada budidaya tanaman kubis ini menggunakan konsep pertanian organik karena nilai jual kubis organik lebih tinggi dan dapat menghindari pencemaran lingkungan. Pertanian organik tidak digunakan bahan kimia maupun senyawa kimia, baik untuk pupuk maupun untuk pengendalian hama penyakit tanaman kubis.

 

6.      Pemilihan Masukan Yang Diaplikasikan

Pembudidayaan kubis akan akan menggunakan konsep pertanian organik maka yang akan diaplikasikan yaitu penggunaan pupuk organik untuk memenuhi nutrisi tanaman kubis yang berasal dari kotoran hewan ataupun sisa - sisa tumbuhan. Sedangkan untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan pestisida nabati.

 

B.     PELAKSANAAN

 

1.      Pemilihan Benih

Benih yang digunakan dalam budidaya kubis adalah benih dengan varietas Grand 11. Grand 11 merupakan varietas kubis yang dibudidayakan di dataran tinggi, karena memiliki daya adaptasi yang baik pada kondisi lingkungan setempat. Sehingga kubis ini bisa tumbuh optimal meskipun ditanam pada musim hujan ataupun kemarau. Kubis varietas grand 11 memiliki ketahanan terhadap serangan penyakit busuk hitam dan dan bercak daun. Dalam budidaya tanaman kubis varietas ini dapat dipanen dalam kurun waktu kurang lebih 70 hari. Bentuk fisik dari varietas kubis Grand 11 yaitu bulat pipih, padat dan berwarna hijau tua. Dengan berat antara 1,5 – 2,5 kg/kepala. Dalam 1 hektar lahan dapat ditanami 20.000 bibit kubis, dengan potensi hasil mencapai 40 ton. Hanya saja untuk memperoleh hasil panen yang optimal sebaiknya ditanam di daerah yang memiliki ketinggian sekitar 500 – 1.500 mdpl.

 

2.      Pengolahan Lahan

Membuang gulma sekitar lahan lalu membajak tanah sedalam 30 cm – 40 cm hingga gembur, kemudian dibuat parit keliling selebar 1 – 1,2 m, tinggi 30 cm, panjang sesuai lahan, jarak antar bedeng 40 cm. Kemudian permukaan bedengan diratakan dan membuat lubang tanam ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 50 x 60 cm. Pengolahan tanah 14 – 30 hari.

 

3.      Penanaman Bibit

Menanam kubis paling baik adalah pada awal musim hujan (Oktober) atau awal musim kemarau (Maret). Tanaman kubis dapat juga ditanam sepanjang musim asalkan sumber air terpenuhi (musim kemarau) dan dilakukan pengendalian OPT lebih ketat (musim penghujan).

 

4.      Pengairan

Kubis membutuhkan  air cukup banyak. Tanaman yang masih muda memerlukan air sebanyak 300 cc per hari. Kubis dewasa, memerlukan air sebanyak 400 – 500 cc per hari. Pengairan dileb atau disiram, pengairan 1 – 2 hari sekali dan selanjutnya dikurangi tetapi tanahnya tidak boleh kekeringan.

 

5.      Pengelolaan Hama dan Penyakit

-          Pengendalian Secara Fisik dan Mekanik

Pengendalian secara fisik dan mekanik adalah pengendalian hama yang dilakukan secara langsung membinasakan serangga hama dengan alat - alat tertentu. Pengendalian ini dapat dilakukan dengan mengambil langsung hama, memasang perangkap hama, dll.

-          Pengendalian Secara Hayati

Dengan memanfaatkan musuh alami. Contohnya adalah lalat Tachinidae (T. Braueri) yang merupakan parasitoid larva A. Ipsilon, dan D. Semiclausum yang merupakan musuh alami paling penting hama P. Xylostella. Musuh alami dari hama dapat dikembangbiakkan secara masal  di laboratorium maupun di lapangan langsung.

-          Pengendalian penyakit dengan mencabut tanaman yang diperkirakan terserang penyakit. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penularan penyakit ke tanaman kubis di sekitarnya.

-          Pestisida nabati merupakan pestisida dimana bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan dan bahan organik lainnya yang berkhasiat mengendalikan hama pada tanaman. Tumbuhan yang bisa dijadikan bahan utama pestisida nabati antara lain mimba, seraiwangi dan lengkuas.

 

6.      Pemanenan

Kubis dipanen pada umur 2 – 3 bulan setelah tanam di lahan, ciri-ciri cukup umur, krop mencapai ukuran maksimum, padat/ kompak, bila dijentik jari tangan berbunyi nyaring. Pemanenan terlambat berakibat kropnya pecah / retak (busuk). Waktu yang tepat untuk panen kubis adalah siang hari karena kubis yang dipanen terlalu pagi masih berembun, embun ini harus dihilangkan karena dapat memacu tumbuhnya penyakit jamur.

Penyimpanan kubis di gudang penyimpanan harus tersedia rak - rak bertingkat, lingkungan cukup lembab, sirkulasi udara baik, suhu udara relatif rendah. Untuk pengiriman jarak jauh selama di penyimpanan dilakukan pelumuran pada pangkal krop dengan larutan kapur tohror (50 – 100%) untuk mencegah penyakit busuk daun.

 

C.    EVALUASI

Evaluasi dilakukan setelah langkah – langkah pelaksanaan Pengelolaan Kesehatan Tanaman kubis telah dilaksanakan. Dengan evaluasi pada data yang diperoleh selama persiapan maupun pelaksanaan dapat dilihat apakah sudah sesuai dengan rencana awal untuk mencapai tanaman sehat ataukah belum. Apabila sudah mencapai potensi genetik sepenuhnya, maka kegiatan budidaya kubis dengan konsep PKT telah terlaksana dengan baik. Apabila masih terdapat kesalahan dapat dilihat tahapan mana yang perlu diperbaiki sehingga nantinya terdapat kemajuan.

 

 


Minggu, 23 Februari 2020

Rabu, 05 Februari 2020

Tugas 1

Hubungan Statistika dengan Rancangan Percobaan

Statistika

A. Pengertian Statistika dan Statistik
Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data.Sedangkan Statistik adalah sekumpulan metode dan aturan mengenai pengumpulan, analisis, pengolahan, dan penafsiran data dari angka-angka yang menjelaskan data atau hasil pengamatan. Umumnya statistik banyak digunakan dalam suatu penelitian di berbagai bidang, misalnya ekonomi, bisnis, pertanian, manufaktur, pemasaran, dan lain-lain. Dengan adanya statistik maka akan didapatkan suatu kesimpulan dan memudahkan proses pengambilan keputusan.

B. Tujuan Statistik
Untuk membuat deskripsi atau menjelaskan data tentang populasi yang diselidiki.
Untuk membantu membuat estimasi mengenai nilai yang tidak diketahui berdasarkan data yang dianalisis.
Untuk membuat estimasi mengenai akibat suatu hipotesis yang diterima. Estimasi tersebut nantinya dipakai sebagai dasar pengembilan keputusan.
Untuk mengurangi jumlah populasi yang luas pada ukuran yang lebih kecil agar lebih mudah dipahami.

C. Fungsi Statistik
1) Fungsi Deskriptif
Digunakan untuk mendeskripsikan, menerangkan data dan peristiwa, yang dikumpulkan melalui proses penelitian dan penyelidikan dimana belum sampai generalisasi atau mengambil kesimpulan tentang populasi yang diteliti.
2) Fungsi Inferensial
Digunakan untuk memprediksi dan mengendalikan seluruh populasi berdasarkan data, gejala, dan peristiwa yang ada pada proses penelitian. Fungsi ini dimulai dengan membuat suatu estimasi dan hipotesis.

D. Tipe Pengujian Data
1) Statistika Eksperimental (Parametrik)
Statistika Parametrik yaitu statistik yang dilakukan berdasarkan model distribusi normal. Statistika parametrik mendapatkan data melalui suatu percobaan dan perlakuan / intervensi dari peneliti sehingga dampaknya dapat diukur menggunakan statistik.
Contoh : Pengaruh pemberian pupuk N terhadap tinggi tanaman jagung.
2) Statistika Non-Eksperimental (Non Parametrik)
Statistika Non Parametrik yaitu statistik yang dilakukan dengan metode distribusi bebas atau tidak berdasarkan pada model distribusi normal. Statistika non parametrik tidak perlu melakukan percobaan karena sering dinyatakan dalam bentuk kualitatif. Peneliti tidak melakukan intervensi / perlakuan dan hanya mengumpulkan data / fakta yang ada.
Contoh : Pengaruh musim hujan terhadap serangan lalat buah pada tanaman jambu air

E. Syarat Hasil Penelitian
Validitas
Ukuran kekuatan kesimpulan hasil penelitian. Nilai hasil penelitian yang tidak valid, akan membuat hasil dan kesimpulan penelitian menjadi tidak akurat.
Reliabilitas
Ukuran konsistensi dari suatu hasil pengukuran. Nilai hasil penelitian dikatakan sama apabila memiliki kriteria yang sama.

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan merupakan cabang dari ilmu statistika yang mempelajari cara mengatasi, mengisolasi atau mengontrol keragaman materi pada suatu percobaan. Rancangan percobaan adalah sebuah desain yang menjadi dasar pengambilan data sebuah penelitian. Kata desain atau rancangan menimbulkan arti bahwa proses pembuatannya dilakukan dengan sengaja. Desain dalam rancangan percobaan selain menyediakan lingkungan yang ideal, juga dibuat agar terjadi perubahan objek yang cukup sehingga dapat diamati melalui respon yang muncul. Misalnya adalah perbedaan perlakuan konsentrasi pupuk, atau perbedaan perlakuan jarak tanam.

Rancangan percobaan dibagi menjadi 2, yaitu :

  • Validitas Internal

Validitas Internal digunakan untuk mengetahui apakah manipulasi percobaan memang benar menimbulkan perbedaan. Validitas internal ini adalah tingkatan dimana hasil-hasil penelitian dapat dipercaya kebenarannya atau  berkenaan dengan derajat akurasi antardesain penelitian dan hasil yang dicapai.


  • Validitas Eksternal


Validitas Eksternal digunakan untuk mengetahui seberapa jauh penemuan ini cukup representatif untuk dibuat generalisasi pada kondisi sejenis. Validitas eksternal adalah tingkatan dimana hasil-hasil penelitian dapat digeneralisasi pada populasi, latar dan hal-hal lainnya dalam kondisi yang mirip.

Tujuan Rancangan Percobaan

  • Untuk memilih peubah terkendali (X) yang paling berpengaruh terhadap respon (Y). peneliti biasanya menyiapkan berbagai perlakuan yang selanjutnya menentukan perlakuan mana yang menimbulkan respon paling tinggi.
  • Untuk memilih atau menentukan manakah gugus peubah X yang paling mendekati nilai harapan (Y). Dalam hal ini, peneliti memiliki target yang ingin dicapainya dan menyiapkan berbagai perlakuan untuk menentukan perlakuan yang terbaik.
  • Untuk memilih gugus peubah X yang menyebabkan ragam respon paling kecil yang berarti penelitian bertujuan untuk memilih perlakuan yang menimbulkan respon paling stabil.