SISTEM PENGELOLAAN KESEHATAN TANAMAN PADA BUDIDAYA TANAMAN KUBIS PUTIH (Brassica oleracea L.)
Salsalia Corry N.S ( 18025010152 )
PHPT Kelas D
Kubis (Brassica oleracea L.)
merupakan sayuran yang mempunyai peran penting untuk kesehatan manusia. Kubis
banyak mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh manusia.
Sebagai sayuran kubis dapat membantu pencernaan, menetralkan zat-zat asam.
Kubis mengandung banyak vitamin seperti vitamin A, beberapa vitamin B, vitamin
C, dan vitamin E). Kandungan Vitamin C cukup tinggi pada kol dapat bermanfaat
untuk mencegah skorbut atau sariawan akut. Kubis juga banyak mengandung banyak
mineral seperti kalium, kalsium, fosfor, natrium, dan besi. Kubis segar juga
mengandung sejumlah senyawa yang dapat merangsang pembentukan glutation, zat
yang diperlukan untuk menonaktifkan zat beracun dalam tubuh manusia. Permintaan
produk hortikultura terutama sayuran seperti kubis cukup tinggi. Budidaya
tanaman kubis dengan konsep PKT diharapkan dapat mencapai potensi genetik
sepenuhnya yang dimiliki oleh tanaman kubis, serta membantu meningkatkan hasil
panen sayur kubis di Indonesia.
A. PERSIAPAN
Tahap
persiapan meliputi pengumpulan berbagai macam informasi mengenai komoditas yang
akan dibudidayakan, yakni komoditas kubis.
1. Pengambilan
Keputusan Dan Analisis Usaha Tani
Pengambilan keputusan
usaha tani dan analisis usaha tani dalam budidaya tanaman kubis perlu dilakukan
sebelum dilakukan kegiatan penanaman. Tahap ini dilakukan untuk mengetahui
biaya - biaya serta kemungkinan pendapatan yang akan diperoleh.
Analisis Usaha Tani :
Biaya pembukaan kebun 500 m², peralatan,
bahan tanam : 4.200.000
Pendapatan per panen :
7.800.000
Keuntungan :
3.600.000
2. Pengumpulan
Informasi
a. Potensi
Genetik Tanaman
Potensi hasil pada tanaman kubis varietas
grand 11 dapat mencapai 40 ton / ha dengan pupulasi 20.000 tanaman. Kubis
tumbuh baik di dataran tinggi 1.000 – 2.000 m diatas permukaan laut. Keadaan
iklim yang cocok untuk tanaman kubis adalah daerah yang relatif lembab dan
dingin. Kelembaban yang diperlukan tanaman kubis adalah 80% – 90%,
dengan suhu berkisar antara 15 ºC – 20 ºC, serta cukup mendapatkan sinar matahari.
Apabila kondisi tersebut terpenuhi, diharapkan hasil produksi tanaman kubis
akan mencapai potensi genetiknya.
b. Faktor
Pembatas Tanaman
-
Gangguan hama yang biasa
menyerang tanaman kubis adalah ulat daun
kubis, ulat grayak, ulat krop kubis, dan ulat jengkal kubis. Sedangkan gangguan
penyakit yang biasa menyerang tanaman kubis adalah busuk lunak, busuk hitam dan
akar bengkak
-
Kekurangan air dan
nutrisi hara dapat menyebabkan pertumbuhan kubis lambat karena nutrisi kurang
tercukupi dan mengalami cekaman kekeringan.
-
Kondisi tanah, kelembaban
dan cuaca yang tidak cocok untuk tanaman kubis dapat menyebabkan hasil produksi
kubis kurang maksimal.
c. Metode
Untuk Mengatasi Faktor Pembatas
-
Gangguan OPT dapat
diatasi dengan pengendalian secara terpadu yaitu dengan menggunakan varietas
yang tahan, penggunaan musuh alami, pengendalian fisik, mekanik, kultur teknik
, penggunaan pestisida nabati.
-
Kekurangan air dapat
diatasi dengan perbaikan pola penyiraman pada lahan agar kebutuhan air tanaman
terpenuhi dengan baik. Kekurangan air ini erat kaitannya dengan musim tanam
yang dipilih.
-
Pemenuhan kebutuhan
nutrisi perlu diberikan secara rutin dan berkala. Pemberian pupuk dilakukan
pada waktu yang tepat dan juga sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
-
Kondisi tanah, kelembaban
dan cuaca harus sesuai dengan persyaratan tumbuh kubis.
d. Kondisi
Lahan Yang dibutuhkan Tanaman
Kubis tumbuh baik di
dataran tinggi 1.000 – 2.000 m diatas permukaan laut. Kubis memerlukan
persentase kandungan air dari kapasitas lapangan 60 – 100 % atau rata-rata
lebih kurang 80%. Tanah lempung berpasir baik untuk dijadikan media tanam
kubis. Keasaman tanah yang dibutuhkan berkisar antara 6 - 7 dengan irigasi dan
drainase yang memadai. Tanah harus subur, gembur dan banyak mengandung bahan
organik.
3. Pemilihan
Lahan
Kubis tumbuh baik di
dataran tinggi 1.000 – 2.000 m diatas permukaan laut pada semua jenis tanah.
Tetapi yang paling baik untuk tanaman kubis adalah tanah yang gembur, banyak
mengandung humus dengan pH berkisar antara 6 – 7. Jenis tanah yang paling baik
untuk tanaman kubis adalah lempung berpasir. Keadaan iklim yang cocok untuk
tanaman kubis adalah daerah yang relatif lembab dan dingin. Kelembaban yang
diperlukan tanaman kubis adalah 80% – 90%, dengan suhu berkisar antara 15ºC –
20ºC, serta cukup mendapatkan sinar matahari.
4. Pemilihan
Kultivar Tanaman
Varietas kubis yang
dipilih untuk budidaya dengan sistem PKT ini adalah kubis hibrida seperti Grand
11, new summit, dan summer autumn 633. Varietas ini tidak perlu mengikat daun
dan muda agar membentuk krop, krop lebih padat daripada kubis non hibrida
sehingga bobot per krop kubis hibrida lebih berat daripada kubis non hibrida,
dan daya tahan crop lebih baik atau lebih lama dalam penyimpanan maupun
pengangkutan daripada kubis non hibrida.
5. Pemilihan
Metode Produksi
Metode produksi yang
dilaksanakan pada budidaya tanaman kubis ini menggunakan konsep pertanian
organik karena nilai jual kubis organik lebih tinggi dan dapat menghindari
pencemaran lingkungan. Pertanian organik tidak digunakan bahan kimia maupun
senyawa kimia, baik untuk pupuk maupun untuk pengendalian hama penyakit tanaman
kubis.
6. Pemilihan
Masukan Yang Diaplikasikan
Pembudidayaan kubis akan akan menggunakan
konsep pertanian organik maka yang akan diaplikasikan yaitu penggunaan pupuk
organik untuk memenuhi nutrisi tanaman kubis yang berasal dari kotoran hewan
ataupun sisa - sisa tumbuhan. Sedangkan untuk pengendalian hama dan penyakit
tanaman dilakukan dengan pestisida nabati.
B. PELAKSANAAN
1. Pemilihan
Benih
Benih yang digunakan
dalam budidaya kubis adalah benih dengan varietas Grand 11. Grand 11 merupakan
varietas kubis yang dibudidayakan di dataran tinggi, karena memiliki daya
adaptasi yang baik pada kondisi lingkungan setempat. Sehingga kubis ini bisa
tumbuh optimal meskipun ditanam pada musim hujan ataupun kemarau. Kubis
varietas grand 11 memiliki ketahanan terhadap serangan penyakit busuk hitam dan
dan bercak daun. Dalam budidaya tanaman kubis varietas ini dapat dipanen dalam
kurun waktu kurang lebih 70 hari. Bentuk fisik dari varietas kubis Grand 11
yaitu bulat pipih, padat dan berwarna hijau tua. Dengan berat antara 1,5 – 2,5
kg/kepala. Dalam 1 hektar lahan dapat ditanami 20.000 bibit kubis, dengan
potensi hasil mencapai 40 ton. Hanya saja untuk memperoleh hasil panen yang
optimal sebaiknya ditanam di daerah yang memiliki ketinggian sekitar 500 –
1.500 mdpl.
2. Pengolahan
Lahan
Membuang gulma sekitar
lahan lalu membajak tanah sedalam 30 cm – 40 cm hingga gembur, kemudian dibuat
parit keliling selebar 1 – 1,2 m, tinggi 30 cm, panjang sesuai lahan, jarak
antar bedeng 40 cm. Kemudian permukaan bedengan diratakan dan membuat lubang
tanam ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 50 x 60 cm. Pengolahan tanah 14
– 30 hari.
3. Penanaman
Bibit
Menanam kubis paling baik
adalah pada awal musim hujan (Oktober) atau awal musim kemarau (Maret). Tanaman
kubis dapat juga ditanam sepanjang musim asalkan sumber air terpenuhi (musim
kemarau) dan dilakukan pengendalian OPT lebih ketat (musim penghujan).
4. Pengairan
Kubis membutuhkan air cukup banyak. Tanaman yang masih muda
memerlukan air sebanyak 300 cc per hari. Kubis dewasa, memerlukan air sebanyak
400 – 500 cc per hari. Pengairan dileb atau disiram, pengairan 1 – 2 hari
sekali dan selanjutnya dikurangi tetapi tanahnya tidak boleh kekeringan.
5. Pengelolaan
Hama dan Penyakit
-
Pengendalian Secara Fisik
dan Mekanik
Pengendalian secara fisik dan mekanik
adalah pengendalian hama yang dilakukan secara langsung membinasakan serangga
hama dengan alat - alat tertentu. Pengendalian ini dapat dilakukan dengan
mengambil langsung hama, memasang perangkap hama, dll.
-
Pengendalian Secara
Hayati
Dengan memanfaatkan musuh
alami. Contohnya adalah lalat Tachinidae (T. Braueri) yang
merupakan parasitoid larva A. Ipsilon, dan D. Semiclausum yang
merupakan musuh alami paling penting hama P. Xylostella. Musuh alami
dari hama dapat dikembangbiakkan secara masal
di laboratorium maupun di lapangan langsung.
-
Pengendalian penyakit
dengan mencabut tanaman yang diperkirakan terserang penyakit. Hal ini dilakukan
untuk meminimalisir penularan penyakit ke tanaman kubis di sekitarnya.
-
Pestisida nabati
merupakan pestisida dimana bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan
dan bahan organik lainnya yang berkhasiat mengendalikan hama pada tanaman.
Tumbuhan yang bisa dijadikan bahan utama pestisida nabati antara lain mimba,
seraiwangi dan lengkuas.
6. Pemanenan
Kubis dipanen pada umur 2
– 3 bulan setelah tanam di lahan, ciri-ciri cukup umur, krop mencapai ukuran
maksimum, padat/ kompak, bila dijentik jari tangan berbunyi nyaring. Pemanenan
terlambat berakibat kropnya pecah / retak (busuk). Waktu yang tepat untuk panen
kubis adalah siang hari karena kubis yang dipanen terlalu pagi masih berembun,
embun ini harus dihilangkan karena dapat memacu tumbuhnya penyakit jamur.
Penyimpanan kubis di
gudang penyimpanan harus tersedia rak - rak bertingkat, lingkungan cukup
lembab, sirkulasi udara baik, suhu udara relatif rendah. Untuk pengiriman jarak
jauh selama di penyimpanan dilakukan pelumuran pada pangkal krop dengan larutan
kapur tohror (50 – 100%) untuk mencegah penyakit busuk daun.
C. EVALUASI
Evaluasi
dilakukan setelah langkah – langkah pelaksanaan Pengelolaan Kesehatan Tanaman
kubis telah dilaksanakan. Dengan evaluasi pada data yang diperoleh selama
persiapan maupun pelaksanaan dapat dilihat apakah sudah sesuai dengan rencana
awal untuk mencapai tanaman sehat ataukah belum. Apabila sudah mencapai potensi
genetik sepenuhnya, maka kegiatan budidaya kubis dengan konsep PKT telah
terlaksana dengan baik. Apabila masih terdapat kesalahan dapat dilihat tahapan
mana yang perlu diperbaiki sehingga nantinya terdapat kemajuan.

